Langsung ke konten utama

Cerita Kehamilan Ektopik (Ectopic Pregnancy)

“Perjalanan Bangkit dari Ectopic Pregnancy (Kehamilan Ektopik)”

Tergugah untuk share tentang pengalaman ini sebagai tanda "kekuatan" untuk para pejuang KE di luar sana..

Beginning . . .

06 Desember 2014 saya menikah. Sebagai pasangan pengantin baru, keinginan yang paling membludak dalam hati adalah “memiliki anak”. Apakah itu wajar? Ya, pastilah sangat wajar. Salah satu tujuan berumah tangga pasti untuk memiliki keturunan, generasi penerus dalam keluarga. Ditambah lagi, saat bertemu kerabat atau teman, pertanyaan yang paling sering mereka lontarkan adalah “Sudah hamil belum?”, dibandingkan dengan bertanya mengenai kabar diri saya atau suami sendiri. Jadilah, saya semakin gundah gulana saat bulan Januari kok “tamu bulanan” masih datang juga. Ah, pasti ada yang salah nih dengan metode “reproduksi anak” yang saya dan suami lakukan. Jadilah saya merengek pada suami untuk mencari tahu dan bertanya pada teman-temannya yang istrinya “cepat hamil”, bagaimana sih metode reproduksi yang bisa membuat cepat hamil.

Setelah mendapatkan beberapa informasi, kami pun langsung mempraktekkan beberapa metode yang konon kabarnya bisa mempercepat kehamilan. Jujur pada saat itu, tujuan “kebersamaan” saya dengan suami adalah “Supaya Hamil”, bukan karena hal yang lain.

Entah karena pengaruh hal tersebut atau bukan, setelah mengetahui si “tamu bulanan” terlambat hadir 3 hari di minggu ke-4 bulan Februari, saya pun membeli test pack. Alangkah bahagianya saya saat muncul dua garis merah samar di alat tes kehamilan tersebut. Wah, setelah 2 bulan menunggu akhirnya anugerah ini datang juga, batin saya.

Kabar hasil test pack ini tentunya langsung saya informasikan kepada orang tua dan mertua saya. Kebetulan, entah karena bawaan janin atau sugesti, saya mengalami mual muntah. Saat itu bersamaan dengan acara resepsi pernikahan ke-2. Tanggal 06 Maret 2015 sehari sebelum perayaan resepsi ke-2 di tempat suami, kami periksa ke Obgyn di salah 1 RS Swasta di Kelapa Gading. Niat awal sebetulnya mau minta vitamin atau semacam obat penahan mual. Namun saat dilakukan USG perut, ternyata belum terlihat apa-apa di dalam rahim. Obgyn menyarankan saya untuk kembali lagi 2 minggu ke depan, dan sementara ini, saya dibekali obat mual dan penguat janin.

Sehari setelah pelaksanaan acara resepsi ke-2, saya merasakan nyeri di bagian perut kanan bawah. Rasanya semacam kram. Saat itu, saya pikir mungkin karena lelah saja sehabis acara resepsi kemarin sehingga saya langsung beristirahat.

Esok harinya, saat saya ngantor seperti biasa, saya menemukan flek coklat di panty. Seketika saya langsung teringat rasa nyeri yang saya rasakan semalam. Apakah ini ada korelasinya? Jujur saya agak panic saat itu. Maklum, hamil pertama.  Sesampainya di rumah, saya langsung memberi tahu kondisi tersebut kepada Mama saya dan beliau menyarankan saya untuk melakukan cek ke Obgyn yang praktek di sekitar Cibinong. Dan esok harinya, saya izin tidak masuk kantor, menuruti saran Mama saya.

Berbekal dari beberapa saran teman dan juga hasil googling, pergilah saya cek kandungan  ke dr Johannes Taolin Sp.Og (beliau akrab disapa dr Jo) yang praktek di RS Sentra Medika Cibinong. Berdasarkan hasil review komunitas ibu hamil, Obgyn ini teliti dan recommend, sehingga cukup terkenal di wilayah Cibinong & Kab. Bogor. Saya pun manut dengan hasil rekomendasi para ibu hamil tersebut.

Saat beliau melakukan pemeriksaan USG perut, lagi-lagi (masih) belum terlihat ada kantung janinnya. Asumsi  beliau, hal ini terjadi karena saat itu usia kehamilan saya masih 6 minggu, dan kemungkinan apa yang saya alami kemarin adalah karena factor kelelahan. Saya kemudian disarankan untuk bed rest selama 3 hari dan tetap mengkonsumsi obat penguat janin dari Obgyn sebelumnya.

dr Jo menambahkan,  jika memang penyebabnya adalah karena kelelahan, seharusnya selama bed rest 3 hari flek sudah hilang. Namun jika ternyata fleknya masih timbul, beliau menyarankan saya untuk melakukan pemeriksaan lanjutan karena mungkin ada faktor lain "selain" kelelahan.

Dannnn Selama bedrest selama 3 hari di rumah, bersih sama sekali tidak ada flek yg keluar.

Esok harinya, saya pun pergi  ngantor.  Dengan penuh percaya diri, setiap ada yang bertanya kondisi saya kemarin, saya menjawab karena factor kelelahan pasca resepsi. Namun, bak terkena badai di musim kemarau,  semua itu sirna seketika saat saya kembali merasakan nyeri yang luar biasa di lokasi perut yang sama, kira-kira 15 menit sebelum waktu bel pulang kantor. Yang kali ini rasanya berlipat lipat lebih nyeri.

Sambil gemetar mengangkat gagang telepon, saya meminta tolong mba resepsionis kantor untuk memesankan taxi. Saya ingat saat itu tim Section saya sedang hectic persiapan acara training di Puncak, jadi saya pun tidak sempat berpamitan.  Saat bel pulang tiba,  sambil menahan nyeri yg amat sangat,  saya berjalan menuju mesin absen dan meminta tolong Security kantor memanggil Bapak Taxi ke depan lobby.  Rasanya nyeri sekali, seperti mau pingsan.

Kelirunya sepulang dari kantor saat itu saya tidak langsung ke RS, tapi malah pulang ke rumah, karena yg terbayang dalam pikiran saya hanyalah tempat tidur. Jadi, sepanjang malam itu saya harus merasakan nyeri yg luar biasa dan terjaga sepanjang malam.

Akhirnya besok paginya saya sudah tidak tahan lagi dan meminta dibawa ke IGD RS Sentra Medika Cibinong. Kondisi saya saat itu sudah benar-benar darurat. Berbaring pun sakit sekali, malah kok terasanya semakin sakit.

Sampai IGD,  saya langsung dibawa ke ruang praktek dr Jo. Bersyukur saat itu beliau sedang ada jam praktek.  Dan ternyata berdasarkan USG Transvaginal yang dilakukan, dr Jo mengatakan : “Ini hamil di luar kandungan”….

Hancur rasanya hati saya saat itu. Di layar USG 2D,  dr Jo memperlihatkan gambar semacam bercak warna hitam yg cukup banyak dan ternyata itu saya sudah mengalami pendarahan dalam. Janin saya tumbuh di saluran tuba fallopi sebelum dia sampai rahim. Dan karena memang bukan di tempatnya, akhirnya dia timbul gesekan dan menyebabkan pendarahan serta rasa nyeri yang amat sangat.

Must be Survive . .

Tak pernah terlintas sama sekali di pikiran saya, bahwa kondisi yang sebelumnya pernah saya baca di artikel kesehatan bisa saya alami. Setelah pemeriksaan USG, saya lantas dibawa ke ruang rawat inap dan saat itu pula saya mulai mengalami pendarahan. Banyak. Sangat banyak. Sampe saya harus pakai diapers ukuran dewasa. Saya masih ingat, satu-satunya aroma yg tertangkap oleh indra penciuman saya saat itu hanyalah bau amis darah.  Bisa dibayangkan ya seberapa hebat bleeding nya??

Supaya lebih jelas, saya ulas sedikit tentang Kehamilan di Luar Kandungan (Kehamilan Ektopik). 
Kehamilan Ektopik adalah kondisi kehamilan yg terjadi saat sel telur yang dibuahi tidak berkembang d dalam rahim,  namun menemlel dan tumbuh di tuba fallopi.  Di dalam beberapa kasus,  kehamilan ini dapat terjadi di dlm rongga perut,  ovarium,  atau leher rahim.

Banyak org awam yg mengira Kehamilan Ektopik ini sama dengan Hamil Anggur.  Padahal keduanya jelas berbeda.  Kalo Hamil Anggur (Molar Pregnancy)  adalah kondisi adanya tumor yg berkembang di dalam rahim.  Jadi jelas beda yaa,  KE itu janin namun salah tempat berkembang,  sementara Hamil anggur itu tumor.

Kembali ke cerita saya, jika sekarang saya bandingkan dengan mulas melahirkan (saya sempat merasakan mulas pasca induksi saat mau coba melahirkan anak pertama secara normal), bobotnya sama. Bahkan saya berani bilang : Lebih sakit KE. Kontraksi melahirkan menimbulkan rasa mulas yang rasanya menyebar dari ujung kepala sampai kaki. Tapi kalau KE, rasa nyerinya terpusat hanya di bagian perut bawah yang bermasalah. Kebetulan saat itu janin saya tumbuh di saluran tuba fallopi sebelah kanan. Jadi, nyeri nya di perut bawah sebelah kanan.

Rasanya bernafas pun sesak karena menahan nyeri.  Belum lagi bleeding hebat yang berlangsung secara terus menerus (3 hari pertama paling parah). Yg bisa saya lakukan saat itu hanya berdoa dan menangis di pelukan suami (untungnya selalu ada bahu untuk bersandar dan tangan untuk memeluk yaa,  hehehe)

dr Jo sangat intensif memperhatikan kondisi saya.  Bahkan saat itu hari Minggu pun sepulang ibadah,  beliau visit untuk mengontrol keadaan saya. Pasien-pasien dengan KE ini memang harus selalu dipantau,  apalagi kondisi bleeding.  Krna pada beberapa kasus,  pasien bisa meninggal dunia krna kehabisan darah.

Saat itu HB saya masih 10, so dr Johanes tidak langsung menyarankan untk tindakan lanjutan,  yaitu operasi.

Setelah kurang lebih seminggu rawat inap, rasa nyerinya berangsur-angsur berkurang dan saya diperbolehkan pulang. Dr hasil USG,  janin saya masih terlihat,  namun kondisi nya sudah compang camping.  dr Jo msh belum menyarankan tindakan operasi,  krna harapannya janin saya dapat dikeluarkan secara alami.

Kurang lebih 2 minggu istirahat di rumah dengan kondisi yang masih mengeluarkan flek darah (walaupun tidak separah saat awal), akhirnya saya memutuskan untuk konsultasi ke dr Jo dan meminta untuk dioperasi agar janin saya bisa diambil keluar. Mengetahui bahwa saya sanggup dan mau, akhirnya tanggal 26 Maret 2015 saya menjalani operasi laparoktomi.

Rasanya campur aduk antara sedih dan takut. Takut jika setelah dioperasi kondisi saya jadi sulit punya anak lagi, takut ada penyakit tambahan yang saya alami. Namun, tim perawat di RS Sentra Medika selalu mengajak saya ngobrol sehingga saya bisa sedikit lupa dengan rasa takut itu.

Saya ingat, saat sesi operasi dr Jo pun terus mengajak saya ngobrol, bertanya di mana saya bekerja, kegiatan sehari-hari saya, bahkan tidak jarang beliau juga “melawak” supaya saya relax dan tidak stress. Hal tersebut saya akui berhasil untuk mengurangi semua perasaan sedih dan takut yang campur aduk saya rasakan.
dr Jo juga sempat memperlihatkan janin saya yang diambil dari saluran tuba fallopi. Ukurannya masih sangat kecil. Bentuknya melengkung seperti udang. Janin kecil inilai rupanya yang dikirimkan oleh Tuhan untuk memperbaiki mindset saya. Dia memang belum memiliki ruh, namun kekuatan energy yang saya rasakan semenjak saya melihat dia sungguh luar biasa.


The Enlightment . .

Pasca laparoktomi, saya perlahan belajar menjadi pribadi yang lebih pasrah, nerimo, legowo. Janin pertama saya itu berhasil memperbaiki mindset saya, bahwa segala sesuatu itu memang benar-benar tidak selalu berjalan sesuai dengan keinginan kita. Apa yang kita inginkan cepat, dapat dengan mudahnya diperlambat oleh Tuhan. Sebagai manusia saya seharusnya tidak terlalu memaksakan kehendak. Apalagi niatnya untuk “memenuhi harapan lingkungan”. Ternyata saya salah besar.

Bersyukur suami saya sangat supportif. Saya selalu ditenangkan dengan keyakinan bahwa mungkin kami masih diberi waktu lagi untuk "pacaran halal", honeymoon, dan untuk travelling ke tempat-tempat yang sebelumnya belum pernah kami kunjungi. Jadi prinsip saya sejak saat itu adalah just enjoy make love tanpa dibayang bayangi keharusan untuk hamil.

Kami juga menyiapkan mental kalau mungkin (dan pasti) banyak pertanyaan, "udah isi atau belum". Pertanyaan yang sebelumnya menjadi momok bagi saya dan membuat saya "ngotot" ingin hamil.

Dan, di saat saya sudah berada dalam kondisi pasrah dan betul-betul menikmati masa kebersamaan saya dengan suami tanpa adanya tekanan apapun untuk hamil di situlah Tuhan menunjukkan kekuasannya..

When the Miracle happens . .

Kuasa Tuhan ini saya sebut sebagai keajaiban.  Terhitung tggl 26 Maret 2015 saya operasi KE, 20 April 2015 haid pertama pasca operasi, lalu tanggal 20 Mei saya belum haid. Tanggal 21 Mei dengan motif “iseng” karena mau menghabiskan stock test pack yang saya punya, saya pun test pack . Daaaaan tanpa diduga, hasilnya pun ada garis merah dua. Jelas! Sangat jelas.

Saya kaget bukan main saat itu. Orang pertama yang saya hubungi adalah dr Jo. Saya mengirimkan foto hasil test pack via bbm dan dengan santainya beliau menjawab : "Itu sih hamil. Besok kontrol ya"

Melihat jawaban beliau, saya kontan menangis. Rasanya seperti lemas dari ujung kepala sampai ujung kaki. Saya lalu menghubungi suami. Saya bilang, “Aku takut, . . .dr Jo bilang aku hamil” . .
Kadang ada lucunya juga kalo inget saat itu. Padahal, saya kan sudah bersuami,  terus kenapa juga harus takut?

Yang ada di otak saya adalah beribu asumsi, semisal KE lg bagaimana?? Masa iya, saya harus operasi lagi??  Sekarang saja bekas OP nya msh berasa. .  Ya Tuhannnnn.  .

Esok harinya,  dengan agak sedikit "jontai" krna menangis semalam (macam lagunya Audi, hehe),  saya ditemenin suami cek ke dr Jo.  Beliau lgsng USG Transvaginal dan spontan bilang, "Alhamdulillah, di dalam rahim".

Seketika perasaan saya plong, lega, bahagia, bersyukur. Padahal sebenarnya saya masih harus “istrahat” dulu paling tidak 6 bulan untuk memulihkan kondisi pasca KE, barulah boleh program hamil lagi.

Tapi, ini sungguh di luar dugaan,  baru sekali haid saya sudah hamil lagi. Normal pulak !! 
SUJUD SYUKUR!!

Saya menjalani proses kehamilan dengan saat bahagia, walaupun harus melewati 3 kali rawat inap karena HeG. Hingga sampailah di tanggal 09 Januari 2016 janin ke 2 saya lahir dengan kondisi normal, sehat,  dan disambut dengan suka cita,.
.
Jadi, KE itu bukanlah akhir dari segalanya. Meskipun kondisi KE menyumbang sekitar 18% kematian ibu hamil di Indonesia, namun jika ditangani dengan tepat, KE bisa menjadi awal dari kebahagiaan dan keberkahan bagi tiap pasangan. Ibarat kata pepatah "Habis gelap terbitlah terang", atau bahasa keren-nya : "There always comes a rainbow after every storm"

Teruntuk para calon ibu yang saat ini sedang mengalami KE atau kehilangan janin dalam bentuk apapun, ayok kita harus bangkit dan semangat. Tunjukkan kepada Tuhan kalau ujian ini memang mampu kita lalui. Dan, percayalah bahwa keajaiban Tuhan itu memang benar ada.

Melalui tulisan ini saya ingin mengucapkan terimakasih tak terhingga buat Bapak Suami, Budi Sutomo Putra.  Terimakasih karena sudah membuktikan kesediannya menjadi partner hidup dikala susah ataupun senang. Dikala saya harum bebungaan sampe saya harum darah (kok agak serem ya yg ini).  Terimakasih telah mencintaiku apa adanya. *tsaahhh,  kibas jilbab.. Heheh. i love you !!

Juga untuk Obgyn saya, dr Johanes Taolin, SpOG.  Terimakasih atas perawatan serta kesediannya menjawab segala kekhawatiran saya sebagai calon Ibu muda. dr Jo ini super recommended banget.  Beliau Praktek di RSUD Cibinong dan RS Sentra Medika Cibinong. Gaya bicaranya memang blak blakan, tapi sangat jelas.  Beliau juga care bangettt sama pasiennya. Beliau termasuk dokter yang selalu on time visit pasiennya. Jadi pasiennya ga perlu nunggu nunggu di visit sama dokternya.  You are superb, doc!! I heart you.

Dan tidak lupa,  untuk support system saya,  Mama,  Mertua,  Sepupu, dan para sahabat yg menjadi penghibur dan teman setia berbagi cerita.  Kehadiran kalian di hidupku sungguh adalah berkah yg luar biasa.

Well, inilah pengalaman reflektif yang ingin saya bagikan kepada pembaca semua. Semoga, message dan Hikmah yang saya dapatkan dari pengalaman ini juga bisa sampai kepada pembaca semua.

Last but not least, orang yang hebat bukan hanya mereka yang mampu menyelesaikan permasalahan, namun juga mereka yang mampu bangkit dan optimis setelah mengalami permasalahan.

Terimakasih sudah membaca pengalaman saya, 

Salam Positif, Dinda...




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa sih Motivasi Psikologis Para Teroris ?

Amrozi, Noordin M, Top, Imam Samudera. Dulmatin, Dr. Azhari, Ali Gufron, Ibrahim, Muhammad Syarif, dan entah deretan nama tersebut akan berhenti sampai di situ saja atau bahkan terus bertambah. Diawali dari tragedy WTC tahun 2000 silam, istilah teroris mulai menyeruak ke kalangan masyarakat. Kejadian yang disebut-sebut merupakan hasil dari tangan dingin Osama Bin Laden nyatanya memang menjadi tonggak awal ‘perkembangan’ terorisme di dunia. Tidak terkecuali di Indonesia. Kasus Bom Bali yang merenggut nyawa ratusan jiwa yang tidak berdosa sama halnya dengan tragedy WTC di Amerika Serikat. Terhitung sejak saat itu, POLRI seakan memiliki job baru. POLRI bahkan sampai harus membuat sebuah detasemen khusus anti terror yang dikenal dengan Densus 88. Kebanyakan dari para teroris yang telah disebutkan namanya di atas mati konyol karena tubuh mereka ikut hancur bersama kepingan logam yang terdapat dalam bom. Bahkan, tubuh mereka itulah yang pertama kali mersakan dahsyatnya ledakan, sebelum pada…

Tingkah Laku Inovatif (definisi)

Tingkah laku inovatifpada awalnya berasal dari bahasa Latin, yaitu innovare yang berarti “membuat sesuatu yang baru” (Tidd, Bessant, & Pavitt, dalam Ahmad, 2009).  Thompson (dalam Ahmad, 2009) mendefinisikan tingkah laku inovatif sebagai penerimaan, pembentukan generasi, dan pelaksanaan ide-ide baru, proses, produk ataupun jasa. Menurut Wess dan Farr (dalam De Jong & Hartog, 2003) tingkah laku inovatif adalah semua perilaku individu yang diarahkan untuk menghasilkan, memperkenalkan, dan mengaplikasikan hal-hal ‘baru’ yang bermanfaat dalam berbagai level organisasi. Tingkah laku inovatif ini identik dengan inovasi inkremental, karena melibatkan semua pihak sehingga sistem pemberdayaan sangat diperlukan dalam prosesnya.           Tingkah laku inovatif dalam dunia organisasi merupakan sebuah proses perubahan yang menghasilkan sesuatu dalam bentuk produk, proses, atau prosedur yang bersifat baru dalam sebuah organisasi (Zaltm, Duncan, & Holbek, dalam Ahmad, 2009). Sementara D…